Rabu, 14 September 2011

Kisah Hidup Menggereja di Apartemen

HIDUPKATOLIK.com - Kerinduan Michiela Mirah Krisna Tjandra untuk berkumpul dan berdoa bersama sesama umat Katolik tak tergerus kentalnya nuansa individualisme di sekitar apartemen tempatnya tinggal.


Tahun 2008, ketika pindah dari kediamannya di Sunter, Jakarta Utara ke Apartemen The Villas, Kelapa Gading Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ibu tiga anak ini mulai menggerakkan umat Katolik yang tinggal di apartemen ini. Hasilnya, tercipta keeratan jalinan hubungan di antara mereka.

Menurutnya, latar belakang mengapa ia bersemangat melakukan hal ini sebenarnya sederhana sekali. Pertama, ia merasakan kendala jarak yang cukup jauh saat mengikuti kegiatan lingkungan. Ia harus keluar dari apartemen dan bergabung dengan kompleks lain untuk ikut kegiatan Gereja. Kedua, waktu ia tinggal di Sunter Agung, ia sudah terbiasa aktif di lingkungan dan wilayah. “Ketiga, saya yakin setiap warga Katolik rindu untuk berkumpul, berdoa, dan bernyanyi bersama,” ungkapnya.

Anda Katolik?

Mirah, yang ketika remaja aktif menjadi organis Gereja, mendatangi pengelola apartemen dan menanyakan daftar nama warga. Nama orang yang, menurutnya, berbau Katolik ia catat dan ia hubungi. “Ada yang langsung saya datangi, ada yang saya hubungi melalui handphone,” jelasnya.

Selain itu, ia juga pernah melakukan cara yang cukup unik. Saat ada pameran di sekitar apartemen, ia memasang papan di depan pintu masuk apartemen, dengan tulisan “Anda Katolik?”. “Bagi yang mendekat, saya pastikan dia beragama Katolik. Kemudian saya memintanya untuk mengisi biodata berupa nama, alamat, dan nomor telepon,” ceritanya.

Selain upaya tersebut, Mirah juga berinisiatif mendatangi kediaman umat Katolik yang tinggal di apartemen yang berada di wilayah Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara ini. Tak jarang berbagai kendala dialaminya. Pengajar katekumen di Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading ini pernah ditolak saat mengetuk pintu salah satu penghuni apartemen untuk mengkonfirmasi kesediaannya mengikuti kegiatan Gereja. Ia dianggap mengganggu.

“Itu saya anggap hal biasa. Saya tidak malu melakukan hal itu, karena semua ini saya lakukan untuk kepentingan bersama,” akunya.

Ketika umat Katolik mulai terkumpul, Mirah mulai mengupayakan terbentuknya lingkungan di apartemennya. Saat itu, tercatat 34 Kepala Keluarga (KK) yang sudah dihimpunnya. Mirah menghadap pastor Paroki Kelapa Gading untuk minta izin mendirikan lingkungan. Namun, Pastor menyarankan, untuk sementara umat Katolik di apartemen tempat ia tinggal bergabung dengan lingkungan lain dalam mengadakan satu kegiatan.

Hal ini justru membuat Mirah semakin bersemangat mengadakan kegiatan. “Puncaknya, pada pertengahan 2009, saya bersama umat Katolik yang lain menyelenggarakan Misa di apartemen ini. Sesudah Misa, dibentuklah pengurus lingkungan dan saya ditunjuk sebagai sekretaris,” demikian Mirah.

Umat Katolik di Apartemen The Villas akhirnya bergabung dengan apartemen lain, termasuk dalam lingkungan Anastasia V Paroki Kelapa Gading.

Umat di apartemen ini juga mengadakan kegiatan kerohanian layaknya kegiatan lingkungan pada umumnya, seperti pendalaman Kitab Suci, pendalaman iman, doa rosario bersama, doa lingkungan, bakti sosial, ziarah, dan latihan paduan suara. “Kami juga ikut serta menyumbangkan peran dalam tugas Misa di paroki,” jelasnya.

Mengenai penyebaran informasi kegiatan, umat Katolik di apartemen ini membuat pengumuman melalui kertas undangan yang dimasukkan ke dalam kotak surat pada unit tempat tinggal masing-masing umat. Jumlah umat yang berkumpul semakin bertambah, hingga akhirnya dibentuk koordinator blok. “Kami juga terbiasa menyebarkan informasi menggunakan Blackberry karena praktis dan cepat,” ungkap Mirah.

Kendala tempat

Dengan semua pencapaian itu, bukan berarti tidak ada kendala. Tempat tinggal di apartemen yang tidak terlalu luas dan mengedepankan privasi penghuninya menjadi kendala tersendiri. Pada Bulan Rosario, ada umat yang tidak mendapatkan giliran sebagai tuan rumah karena tidak dapat menampung jumlah umat yang hadir.

Mirah bersyukur, ada tempat tinggal umat yang luas, lebih dari seratus meter persegi, dan merelakan diri sebagai tuan rumah untuk kegiatan lingkungan. Untuk unit tempat tinggal yang luas, ruang tamu biasanya dapat menampung lebih dari 25 orang. “Jika untuk event yang besar, kami menyewa aula yang tersedia di apartemen,” katanya.

Agar acara berkumpul menjadi lebih leluasa, rileks, dan menghindari kesan formal, umat Katolik di apartemen ini biasa membuat janji berkumpul di kafe. Di tempat ini ada banyak kafe. Rapat lingkungan pun kadang diadakan di kafe, karena di tempat ini mereka lebih leluasa dan bebas bercanda. Tetapi, di lingkungan apartemen ini, juga ada beberapa umat yang tidak aktif lagi dengan alasan merasa tersinggung karena harus meninggalkan kartu identas di ruang satpam.

Dalam kondisi seperti ini, Mirah mengajak ketua lingkungan setempat untuk tetap menyapa dan mengajak umat yang tersinggung ini ikut kembali setiap ada kegiatan. Ibu yang mempunyai usaha pusat kebugaran di Sunter ini pun memberi penjelasan bahwa hal itu memang prosedur standar pengamanan. Satpam tidak salah melakukan hal tersebut, karena merupakan kewajiban tugas yang harus mereka laksanakan.

Menyikapi hal ini, Mirah berkoordinasi dengan pihak pengelola apartemen. “Saya sampaikan isi kegiatan dan rencana waktu pelaksanaannya, sehingga satpam lebih lunak menyambut kehadiran umat,” tuturnya.

Mirah masih menyimpan keinginan untuk menghimpun dan menggerakkan kaum muda di apartemen tempat ia tinggal. Menurutnya, kaum muda juga harus aktif ikut kegiatan di lingkungan. Ia punya gagasan untuk mengawalinya dengan camping rohani atau kumpul-kumpul di kafe dan nonton bareng. Setelah mereka saling kenal dan akrab, selanjutnya akan diarahkan untuk kegiatan di lingkungan.

Mirah bukan satu-satunya aktivis apartemen. Di sekitar Paroki Kelapa Gading, ada beberapa apartemen yang ditinggali beberapa umat Katolik. Salah satunya, Apartemen Wisma Gading Permai (WGP) di Boulevard Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Di WGP, terbentuk satu lingkungan dengan nama Lingkungan Andreas IV. Yohana Fransiska Erliani Johan didapuk menjadi ketua lingkungan dengan wakil Agus Satoto. Umat Katolik di WGP mulai berkumpul setelah saling kenal dan bertegur sapa di taman apartemen. Taman tersebut terletak persis di tengah WGP dan menjadi sarana bagi para penghuni untuk bercengkerama bersama keluarga sembari melepas lelah setelah seharian bekerja.

Sangat akrab

Erliani menceritakan, mereka saling mengetahui sesama umat Katolik setelah tanpa sengaja bertemu di taman ini. Waktu itu, kira-kira tahun 1998, dan mayoritas umat yang ada di sini adalah pasangan muda yang baru menikah. “Setelah itu, kami sepakat untuk berkumpul dan mengadakan kegiatan rohani bersama seperti doa rosario dan lainnya.”

Seiring dimulainya kegiatan rohani, pendataan umat Katolik pun dirintis. Suasana para penghuni di apartemen ini rupanya cukup mendukung. Nuansa acuh tak acuh tidak terasa di sini. “Beda dengan anggapan orang tentang apartemen pada umumnya. Warga di sini saling menolong,” demikian Erliani.

Untuk menyebarkan informasi kegiatan lingkungan, Erliani memasang pengumuman pada majalah dinding (mading) di masing-masing tower apartemen. “Namun, kami juga menyebarkan undangan kegiatan lewat pesan singkat (sms), karena lebih efektif dan pasti dibaca,” tambahnya.

Meskipun undangan telah disebar, tidak semua umat bisa mengikuti kegiatan rohani tersebut. “Itu biasa. Mereka punya cukup banyak kegiatan, sehingga kadang bisa hadir kadang tidak. Untuk aktif tidaknya umat tergantung pada pribadi masing-masing,” ujar Agus Satoto.

Namun, hal itu tidak membuat kegiatan rohani di apartemen tersendat. Kegiatan bakti sosial, kepedulian lingkungan, dan kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan berlangsung lancar. Biasanya mereka bikin janji dulu, ketika akan bertemu untuk bakti sosial. Agus menempel dulu pengumuman di mading. Setelah sepakat, mereka menentukan tempat berkumpul, misalnya di taman. “Dari taman kami bersama-sama naik mobil menuju tempat bakti sosial,” jelasnya.

Lain halnya dengan pengalaman Stephanus Danny. Ia adalah Ketua Lingkungan Laurensius, sebuah lingkungan yang berada di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Apartemen ini masuk dalam wilayah Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat. “Dari 100 persen umat Katolik penghuni apartemen ini, hanya 30 persen saja yang aktif dan terdaftar sebagai umat Lingkungan Laurensius,” jelasnya.

Kebanyakan penghuni apartemen memang tidak tinggal menetap di apartemen. Sebagian hanya mengontrak, dan sebagian lain hanya tinggal di apartemen saat hari kerja. “Ada umat yang tidak mau didata, karena selain hari Senin hingga Jumat, ia pulang ke paroki asalnya,” ungkap Danny.

Di sekitar Apartemen Mediterania, tumbuh apartemen-apartemen baru. Menurut Danny, ada juga umat Katolik yang tinggal di apartemen ini Danny ingin mengajak mereka mengikuti kegiatan lingkungan. Ia menegaskan, “Jika tidak ada yang menyapa dan mengajak mereka, akan semakin banyak umat yang pindah ke gereja lain.”


R.B. Yoga Kuswandono,
Laporan Hubertus Hapsoro

Halangan Sambut Komuni bagi Suami yang Memiliki Istri Simpanan

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yang terkasih. Umat lingkungan saya, seorang laki-laki Katolik yang sudah menikah sah secara Katolik dengan perempuan Katolik juga ternyata mempunyai istri lain di luar pernikahannya yang sah tersebut. Tetapi, laki-laki itu tetap pergi ke gereja dan menyambut komuni tanpa mengaku dosa. Bagaimana ini?

Petrus, Malang

Bapak Petrus yang terkasih, secara pribadi saya sungguh menyayangkan kenyataan seperti ini. Laki-laki Katolik yang sudah menikah secara sah Katolik mempunyai wanita simpanan selain istrinya yang sah itu. Meski diketahui umum, laki-laki ini tetap saja pergi ke gereja, kemudian menyambut komuni.

Saya bisa mengerti kegelisahan hati Pak Petrus. Tentu saja sikap laki-laki Katolik tersebut sungguh menimbulkan sandungan bagi iman orang lain. Saya pribadi berpendapat, kenyataan semacam ini memberikan gambaran bahwa seseorang yang beriman Katolik tidak secara otomatis bisa menghidupi iman Katoliknya dalam praktik hidup sehari-hari, khususnya dalam menghidupi perkawinannya.

Bagaimanakah seharusnya seorang Katolik menghidupi perkawinannya? Pertama-tama harus saya katakan, bahwa perkawinan Katolik itu mempunyai ciri yang sangat mendasar yaitu satu dengan satu (unitas) dan tidak terceraikan (indisolubilitas). Tidak bisa dibenarkan, jika ada orang Katolik yang mempunyai lebih dari satu istri sekaligus. Salah satu kebanggaan yang melekat dalam nilai perkawinan Katolik ialah kesetiaan seumur hidup. Dan, jika ada orang Katolik yang tidak mampu menghidupi nilai unitas perkawinan, sebenarnya orang tersebut tidak mewujudkan imannya dalam praktik hidup.

Kedua, nilai dan tuntutan cinta kasih suami-istri dalam perkawinan Katolik mencakup keseluruhan hidup. Sebab dalam perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi: (1) Satu tubuh dan segala dorongannya, (2) Satu perasaan dan segala kehangatan afeksi yang menyertainya, (3) Satu jiwa dan semangat yang ada di dalamnya, dan (4) Satu roh yang terus-menerus memberikan bimbingan dan menuntun keduanya mencapai kebahagiaan bersama. Arah yang ingin dituju ialah kesatuan antarpribadi yang melampaui kesatuan semata-mata badani. Dalam terang iman ini, bisa dikatakan bahwa sikap orang Katolik yang memiliki istri lebih dari satu secara mendasar bertentangan dengan semangat perkawinan Katolik.

Ketiga, iman Katolik meyakini bahwa perkawinan pada hakikatnya ada dalam rencana Allah. Perkawinan tak hanya dikehendaki oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan karena keduanya merasa cocok, melainkan terlebih dikehendaki dan direncanakan oleh Allah sendiri sejak penciptaan. Membangun perkawinan dan hidup berkeluarga sudah ada dalam tata penciptaan. Kitab Kejadian 2 dengan jelas menegaskan hal ini. Dalam terang iman ini, kita dapat melihat bahwa kesatuan hidup antara suami-istri merupakan kesatuan yang ada dalam tata penciptaan Allah.

Keempat, perkawinan yang ada dalam rencana Allah itu tetap merupakan kenyataan hidup yang dalam dirinya tak lepas dari kuasa dosa. Pengalaman akan kuasa dosa yang masuk dalam perkawinan tampak dalam hubungan suami-istri yang tidak selalu berjalan mulus. Perselisihan, ketidaksetiaan, kebencian, sukarnya mengampuni pasangan, dll., merupakan buah-buah dosa. Memiliki istri simpanan merupakan bentuk konkret dari dosa yang merusak kesatuan perkawinan.

Kelima, seseorang yang memiliki istri lebih dari satu sebenarnya tidak boleh menyambut komuni. Sebab, hidupnya secara objektif bertentangan dengan persatuan kasih Kristus dan Gereja yang diwujudkan dalam komuni. Sakramen Pengampunan Dosa yang dapat membuka jalan bagi seseorang untuk menerima komuni hanya dapat diberikan kepada mereka yang sungguh menyesali diri dan dengan rendah hati bersedia berjanji untuk kemudian menjalani cara hidup baru yang tidak bertentangan dengan iman Katolik.

Pak Petrus yang terkasih, sekian tanggapan saya. Semoga membantu. Salam dan doa saya.


Ignatius Tari MSF
Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ

Saksi Yehova menolak transfusi darah, mengapa Katolik tidak?

HIDUPKATOLIK.com - Mengapa Saksi Yehova menolak transfusi darah, sedangkan Katolik memperbolehkan? Apa dasar ajaran Gereja Katolik? Mohon penjelasan.

Maria V. Setyoningsih, 081803877xxx

Pertama, memang Saksi Yehova menolak transfusi darah, baik sebagai donor maupun sebagai penerima. Dasar ajaran mereka ialah Kis 15:20 ”supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari darah.” Rujukan ini juga dilihat dalam kaitan dengan Im 17:14 yang melihat darah sebagai ”nyawa segala makhluk”.

Kedua, konteks asli teks di atas sebenarnya berbicara tentang penyembahan berhala, dan bukanlah soal makan atau minum darah, atau tentang transfusi darah. Pada saat itu tidak mungkinlah melakukan transfusi darah, karena itu tidak mungkin teks di atas berbicara tentang transfusi darah. Jadi, jelas bahwa untuk kita umat Katolik, tidak ada larangan untuk transfusi darah. Jika mempertimbangkan juga maksud transfusi darah, yaitu untuk menyelamatkan nyawa, maka praktik transfusi darah tidak bertentangan sama sekali dengan perintah Tuhan, malahan sangat sesuai dengan sikap Yesus yang membela kehidupan.

Jika Allah menciptakan miliaran umat manusia hanya dengan empat golongan darah, maka bisa disimpulkan bahwa Allah mengizinkan kita untuk mentransfusi darah jika dibutuhkan, tanpa memperhatikan ras atau kebangsaan.

Dr Petrus Maria Handoko CM

Kalimantan Selatan: 'Sweet Seventeen' SMP Sanjaya Banjarbaru

HIDUPKATOLIK.com - Dengan nada bangga Uskup Banjarmasin, Mgr Petrus Boddeng Timang, mengungkapkan bahwa SMP Sanjaya telah mampu berprestasi dan memberikan sumbangan bagi masyarakat.


Pada 17 Mei 2011, di aula gedung DPRD Kota Banjarbaru digelar pentas seni akbar perayaan Sweet Seventeen SMP Sanjaya Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Perayaan bertajuk “SMP Sanjaya Membangun Karakter Anak Bangsa” ini dihadiri Uskup Banjarmasin, Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kalimantan Selatan H. Isra Ismail, Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Firdaus Hazairin, Kepala Bimas Katolik Provinsi Kalimantan Selatan Drs Andreas Nua, para mantan kepala SMP Sanjaya.

Ketua Panitia Sweet Seventeen dr Hugo Taruk Nani mengungkapkan, pentas seni ini adalah puncak sekaligus penutupan HUT ke-17 SMP Sanjaya Banjarbaru. Rangkaian kegiatan ini dimulai sejak November 2010. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain workshop Tindakan Kelas, retret guru, rekoleksi siswa, bakti sosial, dan donor darah. Pada Tahun Ajaran Baru 2011/2012, SMP Sanjaya meyediakan beasiswa untuk 10 siswa.

Pada acara pentas seni, empat siswi memainkan biola dengan membawakan lagu khas Banjar “Ampar-Ampar Pisang”. Selain itu, acara ini dimeriahkan dengan penampilan beberapa group band. Turut memeriahkan acara, dua group band yang personilnya adalah alumni. Puncak pentas seni ini adalah sendratari yang didukung sekitar 80 siswa-siswi TK, SD, dan SMP. “Sendratari ini menyajikan kisah perjalanan SMP Sanjaya selama 17 tahun,” kata Asmadi MPd, koreografer sendratari ini.

Malam itu juga diadakan lelang dua penyekat ruangan dan dua set kursi tamu yang terbuat dari rotan. Benda-benda ini merupakan karya siswa-siswi bersama guru pembimbing kegiatan pengembangan diri, menganyam rotan.


Sanjaya Journalist Class. [Agus Puguh Santoso]


Napak tilas

Pada awalnya pendidikan SMP Sanjaya Banjarbaru diikuti oleh sembilan siswa. Waktu itu, sekolah dikelola oleh seorang kepala sekolah, yakni Petrus B. Kolin dan sepuluh guru. Kini, SMP ini memiliki gedung sendiri dengan enam ruang kelas. Tercatat 140 siswa belajar di tempat ini. Pembangunan gedung SMP ini dimulai pada April 1994. Pada 1991, gedung TK dan SD telah selesai dibangun.

Pendirian SMP Sanjaya berawal dari keprihatinan beberapa awam yang melihat anak-anak lulusan SD Katolik Sanjaya tidak dapat melanjutkan ke SMP. Pada awal keberadaannya, kerjasama antara yayasan dengan karyawan dan guru, serta keterbukaan terhadap orangtua siswa menjadi salah satu fokus perhatian. Fokus inilah yang kemudian sangat mendukung perjalanan sekolah ini.

Pada saat itu, SMP Sanjaya ditangani oleh tenaga guru honorer dengan upah yang sangat kecil. Namun, sekolah ini dikelola para guru dan kepala sekolah dengan semangat tinggi. Di sisi lain, tidak semua guru memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Sarana-prasarana sekolah pun terbatas, delapan ruang kelas dan satu ruang kepala sekolah. Gedung SMP Sanjaya Banjarbaru berdiri atas prakarsa Uskup Emeritus Banjarmasin, Mgr W.J. Wilhelmus Demarteau MSF.

Dalam perkembangannya, sejak tahun 2000 Pemerintah memberikan kepercayaan dengan memberi bantuan berupa ruang laboratorium IPA, dilengkapi dengan peralatan praktikum, ruang perpustakaan, buku-buku referensi, ruang guru, dan tiga ruang kelas.

Pada awalnya Yayasan Pendidikan Katolik Sanjaya Putra Banjarbaru dikelola Gereja Katolik Bunda Maria Banjarbaru. Sejak 1998, yayasan ini ditangani para suster dari Kongregasi Suster Santa Perawan Maria (SPM), dan pada 2005 diserahkan kepada Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih (SCMM).

Kepala SMP Sanjaya Banjarbaru, Sr Hubertine Nino SCMM, melengkapi fasilitas sekolah demi perkembangan SMP Sanjaya. Sejak 2010, sekolah ini mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan tambahan muatan lokal “menganyam rotan”. Melalui kurikulum ini dijalankan kegiatan life skill yang bertujuan menyiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi tantangan kehidupan.


[
Sr Hubertine Nino SCMM.
 Agus Puguh Santoso]

Empat kegiatan unggulan SMP Sanjaya adalah pentas seni setiap tahun, English Plus, jurnalistik, dan seni menganyam rotan. Untuk pengembangan diri siswa, tersedia 11 kegiatan, yakni seni suara, seni tari, seni teater, band, biola, kolintang, English Plus, botani, sepak bola, bulu tangkis, dan jurnalistik.

Selain ruang kelas yang dilengkapi AC, sekolah juga dilengkapi dengan laboratorium komputer, laboratorium IPA, perpustakaan, ruang musik, dan laboratorium bahasa yang dilengkapi dengan peralatan untuk program pembelajaran Interactive English Media bekerjasama dengan SMP President School.

Pastor Pius Geroda Issohen MSF, salah seorang tokoh yang ikut mengawali pendirian SMP Sanjaya, menuturkan bahwa dirinya tidak penah membayangkan SMP Sanjaya akan berkembang seperti sekarang. Romo Pius menandaskan, “Bagi saya, yang terpenting SMP Sanjaya bisa mengembangkan generasi muda di Banjarbaru. Dulu, sekolah dan yayasan ini didirikan bukan untuk tujuan bisnis, melainkan untuk merangkul anak-anak Gereja supaya bisa menikmati pendidikan seperti halnya anak-anak lain yang hidup di Banjarbaru.”


Benny Sabdo,
Laporan Agus Puguh Santosa

Eksistensi Keallahan Yesus

HIDUPKATOLIK.com - Yesus dikenali sebagai Allah setelah kebangkitanNya. Mengapa Yesus tidak memperkenalkan diri langsung sebagai Allah kepada para rasul-Nya?

Gregoria Atiek, Surabaya

Pertama, kita harus menyadari bahwa monoteisme di kalangan Yahudi sangat kuat. Karena itu, pasti Yesus tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dan melemahkan ajaran monoteisme ini. Identitas Yesus sebagai Allah hanya bisa dimengerti ketika Yesus memberikan hidup-Nya dalam ketaatan kepada Bapa dan bangkit dari antara orang mati. Di sini menjadi jelas bahwa Yesus bukan ”allah kedua” atau saingan Yahweh, tetapi adalah Sang Putra yang martabat dan eksistensi Ilahi-Nya justru terdiri dari ”menerima segala sesuatu dari Bapa-Nya”. Setelah melihat hidup-Nya dan merenungkan ajaran-Nya dalam terang wafat dan kebangkitan-Nya, para murid dapat mengenali keallahan Yesus dalam kaitan dengan Yahweh, Allah Israel.

Kedua, kesadaran Yesus akan keilahiannya tampak jelas pada beberapa kejadian. Misalnya, ketika Yesus menyampaikan ajaran-Nya tentang Kerajaan Allah, rumusan yang digunakan Yesus sungguh tidak biasa. Pada umumnya para nabi menggunakan rumusan ”maka Tuhan bersabda” atau ”Inilah kata-kata Allah”. Tetapi, Yesus menggunakan rumusan ”Aku berkata kepadamu” atau ”Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu”. Pesan yang disampaikan Yesus bukanlah sesuatu dari luar diri-Nya seperti yang dilakukan oleh para nabi. Demikian pula, Yesus tidak membedakan kata-kata-Nya sendiri dengan kata-kata dari Allah. Keberanian Yesus untuk mengubah Hukum Ilahi yang diberikan melalui Musa menimbulkan tanda tanya tentang identitas-Nya, siapakah Yesus yang mengubah Hukum Ilahi dengan otoritas diri-Nya sendiri. Kata-kata-Nya menunjukkan kesadaran akan keallahan-Nya yang berhak mengubah Hukum Ilahi.

Ketiga, tuntutan Yesus kepada para murid-Nya juga menyiratkan kesadaran Yesus akan keilahiannya. Mereka yang dipanggil Yesus tidak hanya harus menyerahkan seluruh harta milik mereka, tetapi juga harus memilih Dia lebih daripada ikatan keluarga yang terdekat sekalipun, dan bahkan melebihi hidup mereka sendiri.

”Jikalau seseorang datang kepada-Mu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:26; bdk Mat 10:37) Tuntutan Yesus ini pasti mengejutkan murid-murid-Nya, sebab masyarakat Yahudi sangat menyucikan hormat kepada orangtua sesuai dengan perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah. Menguburkan orangtua adalah kewajiban yang paling suci.

Atas keberatan murid yang diungkapkan: ”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku,” Yesus menjawab: ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk 9:59-60). Tentu saja tuntutan Yesus menimbulkan pertanyaan: ”Siapakah orang ini yang berani menuntut loyalitas yang sedemikian tinggi untuk diri-Nya, suatu keterikatan mutlak yang mengatasi relasi insani yang paling intim dan keterikatan pada hidup seseorang itu sendiri?” Pertanyaan ini hanya bisa dijawab kalau kita mengandaikan kesadaran Yesus akan keilahian diri-Nya. Keterikatan pada Yesus pada akhirnya merupakan keterikatan pada Allah.

Keempat, dalam doa-doa-Nya Yesus menyebut Allah sebagai Bapa (Abba). Sebutan ini menunjukkan kesadaran akan keintiman yang unik dengan Allah. Yesus membedakan relasi-Nya dengan Bapa dan relasi murid-murid-Nya dengan Bapa yang sama, yaitu tidak menyebut Allah bersama-sama sebagai ”Bapa kami” tetapi ”Bapa-Ku dan Bapamu” (Yoh 20:18). Ungkapan ini menunjukkan kesadaran Yesus sebagai Allah dalam relasi yang unik dengan Allah Bapa-Nya.

Kelima, kesadaran Yesus bahwa Dia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa juga menyiratkan kesadaran-Nya bahwa Dia adalah Allah, karena hanya Allah yang bisa mengampuni dosa (bdk Mat 9:1-8). Dengan mengampuni dosa atas nama-Nya sendiri, Yesus menunjukkan kesadaran bahwa Dia memiliki otoritas Ilahi (Mat 9:6). Semua ini jelas menunjukkan bahwa Yesus sangat sadar akan keilahian-Nya.

Dr Petrus Maria Handoko CM

Franz Magnis Suseno, Radikal dalam Iman, Toleran pada Sesama

Franz Magnis Suseno atau akrab disapa Romo Magnis sudah genap berusia 75 tahun pada Mei 2011 lalu. Sebagai rohaniawan Katolik dari Ordo Serikat Yesus (SJ), perjalanan hidupnya tidak lepas dari panggilan untuk berkarya untuk Allah dan sesama.

Dia tiba di Indonesia pada Januari 1961 setelah menjalani studi S2 filsafat di Hochschule fur Philosophie di Pullach, Jerman. Alasannya cukup sederhana. Dia merasa hidup dan ilmunya bisa lebih bermanfaat bagi gereja di Indonesia dibandingkan di Jerman.

 "Saya tidak pernah berminat kembali ke Jerman. Saya mau tetap di sini, saya merasa bisa dan diterima, maka saya menjalankan semua seluk beluk birokrasi menjadi warga negara Indonesia (WNI) selama tujuh tahun dari tahun 1970 sampai tahun 1977 akhirnya resmi menjadi WNI. Tidak ada alasan khusus, mungkin, karena saya tidak bayar khusus. Tetapi, tidak apa-apa menunggu sedikit lama," kata Romo Magnis di awal pembicaraan dengan SP di kampus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, baru-baru ini.

Kurun waktu 50 tahun di Indonesia bukan masa yang pendek. Romo Magnis yang juga dikenal sebagai budayawan ini, sudah hidup di Indonesia di bawah kepemimpinan enam presiden sejak Presiden Soekarno berada di puncak kejayaan.

Dia menyadari betul kehidupan bangsa Indonesia yang plural atau bhinneka. Oleh karena itu, keakrabannya dengan sejumlah kiai, ulama, atau tokoh agama lain, dianggap bukan hal yang istimewa. Dia dekat dengan tokoh-tokoh intelektual Islam seperti almarhum Nurcholish Madjid atau Cak Nur dan mantan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Bahkan ia juga cukup dekat dengan tokoh yang dikenal sebagai garis keras Islam, Ahmad Sumargono.

Franz Magnis bersama sejumlah pendeta juga pernah berdialog di rumah Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq terkait izin mendirikan gereja. Pria yang lahir di desa Eckersdorf, Silesia, Jerman dengan nama Franz Graf von Magnis itu mengaku sebagai sosok yang radikal di dalam iman.

Namun, radikalisme yang ia anut tidak membuat dia memandang sinis agama lain. Menurutnya, radikalisme bisa berjalan beriringan dengan sikap terbuka, toleran, atau pluralis.

Sebab, radikalisme tidak berarti kekerasan namun kesediaan seseorang untuk secara penuh atau 100 persen menghayati dan menjalankan imannya.

Radikalisme, ujarnya, tidak sama-sama dengan fanatisme dan fundamentalisme. Seseorang yang fanatik menyingkirkan semua pertimbangan kemanusiaan dan ideologi di luar pikirannya.

Orang yang fanatik bisa menjadi teroris karena dia berjuang demi agamanya. Sedangkan, fundamentalisme adalah intepretasi tertentu terhadap iman.

Seorang fundamental mengira dia sudah mengerti agamanya.

Ciri khas fundamentalisme adalah penganutnya merasa sangat yakin telah sepenuhnya memiliki kebenaran, tidak ada keraguan, dan tidak perlu mempertanyakan imannya lagi.

Seorang fundamental menganggap tahu persis apa kehendak Allah, sehingga hermeneutika atau tafsiran adalah barang haram dan murtad.  

Romo Magnis mengatakan, seluruh situasi pluralitas terkategori rawan konflik. Oleh karena itu, perlu terus menerus dibangun komunikasi demi mencairkan prasangka dan kecurigaan antaragama.

Dia mencontohkan, dalam hubungan pribadi sekali pun, seseorang tidak boleh membuat pembedaan. Misalnya apakah orang lain Islam moderal, liberal, garis keras, fundamental, dan lainnya.

Sebaliknya, seseorang harus berani berdialog untuk menghilangkan rasa was-was berlebihan dan menghapus stereotipe.

Dia mengatakan salah satu bahaya dalam hubungan beragama adalah saat kita melihat orang lain sebagai unsur dari kelompok dan bukan sebagai pribadi.

Dari situlah semua apriori dan prasangka masuk sehingga menghambat komunikasi. 

Di sisi lain, dia menuturkan, seseorang juga harus memandang agama lain dari sudut pandang bagaimana orang-orang terbaik dari agama itu melihat agamanya.

Sebagai contoh, orang Kristiani harus melihat Islam dari sudut pandang tokoh-tokoh Islam yang sungguh-sungguh. Bukan dilihat dari segala kemiringan atau kejelekan agama Islam.

 "Kita harus mampu menghargai yang berbeda, boleh saja kita punya kritik. Tidak perlu semua hal kita setujui karena dalam agama memang ada perbedaan yang fundamental. Kita terima saja," kata Frans Magnis yang ditahbiskan sebagai imam atau pastor di Yogyakarta tahun 1967 oleh kardinal pertama Indonesia, Justinus Darmojuwono.

Dia menjelaskan pluralisme di Indonesia mulai berkembang pada 1970 saat tumbuhnya keterbukaan intelektual di kalangan Islam.

Sebelumnya, pada era 1950 atau 1960, Islam santri tidak cukup direpresentasikan ke dalam kalangan intelektual. Namun hal itu berubah dengan munculnya sejumlah tokoh Islam yang mencolok antara lain Cak Nur dan Gus Dur.

 Di kalangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dialog pluralisme juga semakin berkembang dimana dia kerap diundang sebagai pembicara seminar.

Romo Magnis ditugaskan atasannya untuk mendirikan STF Driyarkara pada 1969. Di sela-sela tugas itu, pada 1971-1973, dia menempuh studi doktor Universitas Munchen dengan disertasi tentang Karl Marx.

Dia menulis sekitar 25 buku di bidang filsafat, etika, dan pandangan Jawa. Pada 2002, dia menerima gelar Doctor Honoris Causae dalam teologi dari Universitas Luzern di Swiss.

Salah satu bukunya, Menalar Tuhan, dipersembahkan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan ingin menjawab pertanyaan apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan.

Selain itu, buku itu juga ditulis bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan tetapi dalam garis kejujuran intelektual dan masih ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasionalitas kepercayaan akan Tuhan. 

Terkait hal itu, Romo Magnis mengatakan dalam beragama sekalipun seseorang harus memakai nalar.

Sayangnya, pendidikan agama di Indonesia masih sekadar hapalan atau bersifat top-down. "Padahal, hanya dengan cara demikian (bernalar), kesumpekan dan pembatuan dalam agama pada hal-hal itu saja bisa dihindari," katanya. (SuaraPembaharuan)

Rabu, 07 September 2011

Nasib Wim Masih Belum Jelas

Dua kekalahan yang sudah diterima timnas di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014, membuat posisi pelatih kepala Wim Rijsbergen makin tak jelas. Rumor akan adanya pemecatan, makin mendekati kenyataan.
Penanggung jawab timnas, Bernard Limbong yang ditemui usai kekalahan timnas dari Bahrain, mengaku saat ini belum bisa memutuskan nasib Rijsbergen. Kata Limbong, semua tergantung perkembangan.
Hanya saja, saat ini ada beberapa opsi terkait masa depan pelatih asal Belanda tersebut. "Dari saya pribadi mengusulkan Rijsbergen diberi deadline. Masih bisa dilanjutkan tapi harus ada garansi yang jelas. Jika gagal,dia harus mundur. Soal pemain,dia diberi kebebasan penuh," kata Limbong.
Jika saja Risjbergen diturunkan, masih usulan Limbong, sebaiknya tim yang turun di laga sisa Kualifikasi Piala Dunia 2014 diserahkan pada timnas U-23 SEA Games 2011. Ini dimaksudkan untuk memberi pengalaman sebelum turun di ajang resmi. "Tapi semua tergantung komite eksekutif. Itu hanya ide saya,"pungkas Limbong. (duniasoccer.com/hanif)

Senin, 05 September 2011

Fungsi utama media: sampaikan informasi

Oleh Sirikitsyah*

Jakarta (ANTARA News) - Tampaknya ini persoalan sederhana. Semua orang juga tahu bahwa fungsi media yang utama adalah menyampaikan informasi. Namun ini perlu saya ulang dan saya tegaskan berkali-kali, supaya media tetap ingat. Juga supaya media massa tak didominasi berita hiburan (gosip selebriti) atau iklan.

Nah, apakah berita tentang Nazarudin yang menghiasi halaman depan semua media arus utama di Indonesia sejak bulan Mei 2011 termasuk memenuhi fungsi informasi? Tentu ada yang merasa sudah tercukupi dan terpuasi.

Namun tak sedikit pula yang merasa tak mendapat info apa-apa (maksudnya yang siginifikan, bukan sekadar tong kosong nyaring bunyinya). Ada juga  yang tak melihat perkembangan (progress) dari kasus suap dan korupsi Wisma Atlet. Semua seperti berjalan di tempat atau mundur atau kesana kemari tak sampai jua ke tujuan: pembongkaran kasus suap itu.

Tentu saja berita-berita Nazarudin dan kembangannya adalah informasi. Namun media massa mesti mengingat standar pemberitaan: ABC. Informasi mesti Akurat, Balanced atau Berimbang, dan Clear atau Complete. Berita dengan Nazarudin sebagai narasumber, bisa dianggap sebagai berita yang akurat, karena narasumbernya pelaku, atau setidaknya tersangka. Prime source. Namun itu saja tidak cukup bagi media massa untuk memenuhi kriteria informatif.

Apakah beritanya sudah balanced? Terutama karena narasumber utama menyebut-nyebut nama lain? Nama lain itu tentu harus diberi porsi yang seimbang. Berita Nazarudin juga kurang Complete dan kurang Clear, karena lebih banyak mengumbar kata-kata tanpa bukti. Siapa yang tidak bisa, misalnya, mengacung-acungkan "flash disc" lalu berkata: "Di sini ada rahasia para pejabat penting di Indonesia."

Apalagi bila wartawan tidak mengejar atau menelusuri kebenaran isi "flash disc" itu. Jangan-jangan itu cuma "flash disc" berisi lagu-lagu, atau foto-foto keluarga, atau malah kosong?

Di sini nilai informatif berita-berita tentang Nazarudin menjadi meragukan. Sekali lagi, berita dianggap informatif bila yang dikabarkan akurat, balanced, dan complete atau clear. Ini rumus ABC paling sederhana untuk tiap jurnalis. Berita Nazarudin tak pernah balanced dan belum complete.

Sebagai konsumen media, kita malah seperti diajak menari mengikuti irama gendang yang ditabuh Nazarudin. Bukannya media massa menelusuri, menyelidiki, melakukan liputan mendalam atau liputan investigasi, media menerima apa saja yang kelur dari mulut Nazarud dan pengacaranya. Maka berita pokoknya, yaitu tentang dugaan adanya suap dan korupsi Wisma Atlet di Kementerian Menpora, Badan /Panitia Anggaran di DPR RI, terabaikan.

Nazarudin menabuh kendang dengan irama selain kasus dugaan suap. Dia menyanyikan lagu bahwa pimpinan KPK pernah bertemu dengannya (yang saya sebagai orang awam akan bertanya: "Seandainya benar mereka pernah bertemu, so what?" Tak ada larangan bagi para tokoh di Jakarta untuk saling bertemu, bukan?).

Pertanyaan intinya, yang lupa ditanyakan para wartawan adalah, "Kalau mereka bertemu dimana letak kesalahannya?" "Pertemuan itu dalam rangka apa dan membicarakan apa?" "Apa sudah ada kasus Wisma Atlet?" "Apa ada negosiasi untuk jadi Ketua KPK?"

Jadi, yang penting adalah apa isi pertemuannya, bukan benarkah mereka pernah bertemu. Konsumen media diberi suguhan irama lagu yang incomplete dan unclear. Apa point-nya mengungkap pertemuan Nazarudin dengan pimpinan KPK (yang konon terjadi awal 2010), apa kaitannya dengan kasus suap Wisma Atlet? Media massa kurang piawai menggiring arus informasi ke arah yang ditunggu-tunggu publik. Media massa terlena mengikuti irama gendang tarian Nazarudin.

Irama lain yang ditabuh antara lain korupsi dan politik uang di Kongres Parta Demokrat (sebagai orang awam saya akan dengan skeptis bertanya: "Memang apa salahnya partai menggelontorkan begitu banyak uang agar kongresnya sukses? Kalau duit-duitnya sendiri? Bukankah itu praktik yang amat wajar?"). Oke, mungkin persoalannya, uang yang dipakai pesta partai itu adalah dana APBN. Uang rakyat. Jelas korupsi.

Narasumber media (Nazarudin) telah mengakui di depan publik bahwa "Partai saya pesta menggunakan dana APBN." Kalau para penegak hukum dan media massa berpegangan pada kalimat pengakuan ini saja, fokus, dan tak usah menengok kesana kemari, persoalan ini amat gampang diselesaikan. Pelakunya mengaku. Selesai.

Namun tampaknya para penegak hukum dan awak media kurang peka, kurang tanggap. Masih saja si Nazarudin diikuti iramanya, termasuk ketika dia berubah irama: "Saya lupa semua, saya tidak tahu apa-apa, saya tak akan merusak nama baik Partai Demokrat." Ini pun diserap begitu saja oleh media dan disajikan kepada kita, tanpa sikap "flashback" yang kritis atas pengakuannya sebelumnya. Apakah ini informasi yang kita butuhkan? Saya meragukannya. Lama-lama bosan juga kita rakyat Indonesia setiap hari selama berbulan-bulan membaca headline tentang satu kasus korupsi tanpa progres yang signifikan, apalagi solusi.

Media massa mesti kembali ingat pada fungsinya yang utama: menyampaikan informasi. Informasinya bukan sekadar pengumuman presiden, atau curhatan tersangka korupsi; melainkan yang benar-benar signifikan dan berdampak bagi publik. Publik akan lega bila koruptor yang bisa keliling dunia pakai pesawat carteran dan ketika buron malah mau nonton sepak bola dan berwisata, segera ditentukan hukumannya.

Sebaliknya, publik akan frustrasi bila semua pilar (pemerintah, hukum, parlemen, media massa) dijadikan bulan-bulanan oleh sang koruptor. Rakyat yang frustrasi mengganggu kesehatan jiwa masyarakat, dan dapat menyebabkan keputusasaan, kemarahan, apatisme, pemberontakan. Pemberontakan yang paling mudah dilakukan rakyat adalah malas membayar pajak (merasa tertipu karena pajak itu dipakai foya-foya oleh para pejabat). Ujung-ujungnya: pendapatan negara mampat, pembangunan tersendat, Indonesia tetap jalan di tempat.

Oleh sebab itu, saya mewakili para konsumen media yang sudah putus asa melihat konspirasi di antara ketiga pilar demokrasi, betul-betul berharap agar media massa berhenti mengikuti irama kendang Nazarudin. Sudah waktunya media memainkan perannya sebagai pengawas, sebagai "watch dog!" Atur jarak dari narasumber (termasuk para pengacaranya, yang hanya menjadikan media sebagai 'loud speakernya'). Lakukan reportase investigasi yang independen.
(@sirikitsyah)

*www.indonesianmediawatch.wordpress.com
*www.sirikitsyah.wordpress.com

Legenda Milan pecundangi Indonesia All Star 5-1


Franco Baresi
Jakarta (ANTARA News) - Legenda klub AC Milan Italia pecundangi Indonesia All Star Legend 5-1 pada pertandingan amal "AC Milan Glorie Asia Disaster Tour" melawan Indonesia All Star Legend di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu.

Gol kemenangan tim yang tergabung dalam AC Milan Glorie itu tercipta lewat Serginho menit 12, 19, 43 dan 60 serta Nelson Dida pada menit 50. Sedangkan gol tuan rumah dicetak oleh Ricky Yakobi menit 86.

Meski usianya tidak muda lagi, legenda AC Milan era 1980-an hingga 2000-an itu masih tetap menampilkan kemampuan terbaiknya seperti saat menjadi tulang punggung klub asal Kota Milan itu.

Terbukti, pertandingan baru berjalan 12 menit, gelandang lincah asal Brasil, Serginho mampu menjebol gawang tim tuan rumah yang dikawal oleh Hendro Kartiko sehingga merubah kedudukan menjadi 1-0.

Tuan rumah yang dimotori Ansyari Lubis sebetulnya juga terus berusaha memberikan perlawanan. Tetapi upaya yang dilakukan oleh Ricky Yakobi dan Rochy Puttiray berhasil dipatahkan barisan pertahanan Milan yang dimotori Franco Baresi.

Berusaha menyerang legenda Indonesia terledor dipertahanan. Lagi-lagi Serginho menjadi momok bagi tuan rumah. Pemain asal Brasil itu kembali mencetak gol pada menit 19 sehingga merubah kedudukan menjadi 2-0 untuk AC Milan Glorie.

Tertinggal 0-2, Indonesia All Star Legend yang dilatih oleh Benny Dolo berusaha menekan lawan. Beberapa kali peluang tercipta lewat kaki Rocky Puttiray, hanya saja serangan itu dimentahkan oleh penjaga gawang AC Milan Glorie, Nelson Dida.

Keasyikan menyerang kembali membuat pertahanan Indonesia All Star Legend terbuka. Dampaknya Serginho mampu mencetak hattrick setelah mampu menjebol gawang Hendro Kartiko pada menit 3-0. Kedudukan ini berlangsung hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua anak asuh Benny Dolo berusaha mengejar ketertinggalannya. Tekanan terus dilakukan hingga Kurniawan DY mampu melesakkan tendangan kencang ke gawang lawan. Tapi berkat kesigapan penjaga gawang kedua yaitu Massimo Taibi, gawang AC Milan Glorie tetap aman.

Pada babak kedua ini kedua tim melakukan perombakan. Bahkan dikubu Milan sang penjaga gawang yang digantikan Massimo Taibi yaitu Nelson Dida menjadi striker dan langsung mampu menjebol gawang Hendro Kartiko pada menit 50 sehingga merubah kedudukan menjadi 4-0.

Masuknya Nelson Dida sebagai striker benar-benar menjadi momok bagi tuan rumah. Terbukti assistnya mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Serginho pada menit 60 sehingga membuat kedudukan menjadi 5-0.

Tertinggal cukup jauh tidak menyurutkan semangat legenda Indonesia. Kesempatan mempendek selisih golpun terjadi setelah Rochy Puttiray dijatuhkan dikontak terlarang dan wasit menunjuk titik putih.

Ponaryo Astaman ditunjuk menjadi algojo. Tapi sayang tendangannya mampu ditepis oleh Massimo Taibi sehingga tidak merubah kedudukan. Sebetulnya peluang tuan rumah cukup banyak tetapi selaku gagal menciptakan gol.

Masuknya Ricky Yakobi menggantikan Rochy Puttiray pada menit 86 berdampak positif. Meski baru masuk kurang dari satu menit, pemain ini langsung mampu mencetak gol bagi tim Indonesia All Star Legend sehingga merubah kedudukan menjadi 1-5.

Hingga peluit panjang tanda pertandingan usai ditiup oleh wasit Jimmy Napitupulu, AC Milan Glorie mampu mempertahankan keunggulannya dengan skor akhir 5-1.

Pemain Indonesia All Star Legend, Hendro Kartiko (gk), Yeyen Tumena, Charis Yulianto, Ansyari Lubis/Fachry Husaini, Ponaryo Astaman, Jaya Hartono/Patar Tambunan, Aji Santoso/Elly Idris, Bima Sakti, Widodo Cahyono Putro/Kurniawan DY,Ricky Yakobi dan Rochy Puttiray/Rully Nere.

Adapun pemain AC Milan Glorie, Nelson Dida (gk), Roque Junior, Franco Baresi/Roberto Mussi, Alessandro Costacurca, Stefano Nava, Gianluigi Lentini, Stefano Eranio, Christian Lantignotti, Federico Giunti, Serginho dan Jean Pierre Papin. (*) (
Ruslan Burhani, Ed)

Minggu, 04 September 2011

Remisi Koruptor Harus Segera Dihentikan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah khususnya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia diminta segera menghentikan pemberian remisi atau pengurangan masa tahanan untuk para koruptor. Pemberian remisi kepada para koruptor tersebut sama dengan melanggar rasa keadilan masyarakat.
Hal itu disampaikan Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch Emerson Yuntho saat dihubungi wartawan, Minggu (4/9/2011). "Ini sama saja tidak memberikan efek jera kepada para koruptor. Selama ini hukuman bagi koruptor itu masih tergolong ringan. Di Pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) saja paling lama tiga tahun," ujar Emerson.
Dia menerangkan, penghentian remisi untuk koruptor dapat dimulai dengan moratorium atau penghentian sementara. Moratorium, lanjutnya, dilakukan hingga undang-undang yang mengatur soal remisi diperbaiki. Remisi seharusnya hanya dapat diberikan kepada koruptor yang berperan sebagai pelaku pelapor atau pelaku tindak pidana korupsi yang turut membongkar kejahatan.
Emerson juga mengingatkan, tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang harus diatasi dengan cara luar biasa pula. Dengan memberi remisi kepada para koruptor, masyarakat hanya akan menganggap korupsi sebagai kejahatan biasa. Dengan demikian, orang akan cenderung menggampangkan untuk melakukan korupsi karena menilai hukumannya ringan.
Selain itu, kata Emerson, pemberian remisi akan merugikan para penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan, dan Kepolisian. "Penegak hukum juga harus berperan, tuntutan dan juga vonis kepada pelaku korupsi tidak boleh ringan dan harus seberat-beratnya. Jadi, walaupun ada remisi maka gak signifikan," ujarnya.
Pada peringatan hari raya Idul Fitri tahun ini, sebanyak 253 koruptor mendapatkan remisi dari pemerintah. Sebanyak delapan koruptor dinyatakan bebas setelah mendapatkan remisi. (Icha Rastika | Laksono Hari W)

Publik Masih Tunggu Keberanian KPK

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo berpendapat, kemampuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap kasus-kasus korupsi baru tidak lagi menjadi faktor yang bisa memperkuat keyakinan publik.

Bagian yang paling ditunggu publik saat ini adalah keberanian KPK menangani kasus-kasus itu secara proporsional dan apa adanya, terutama jika kasus korupsi itu diduga melibatkan orang-orang penting yang dekat dengan kekuasaan.
Dalam siaran persnya, Minggu (4/9/2011), politikus Partai Golkar itu menyatakan, keberhasilan KPK mengungkap dugaan suap dalam pencairan dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) relatif kurang mendapat perhatian publik. Sekalipun pengusaha Dharnawati menyebut keterlibatan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dalam kasus ini, reaksi publik datar-datar saja.
Menurut Bambang, sikap publik seperti itu mengindikasikan turunnya tingkat keyakinan publik terhadap KPK dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan para pejabat tinggi atau politisi. Penurunan keyakinan itu bukannya tanpa alasan.
KPK praktis gagal melaksanakan proses hukum terhadap beberapa pejabat tinggi yang diduga terlibat dalam skandal Bank Century. KPK juga enggan memanfaatkan potensi bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin yang mengantungi informasi cukup lengkap mengenai sejumlah kasus korupsi yang diduga melibatkan tokoh-tokoh penting yang dekat dengan kekuasaan.
Beberapa kalangan sudah terlanjur beranggapan bahwa dalam kasus PPID dan pengusaha Dharnawati, proses penanganan kasusnya akan dilokalisir pada peran orang-orang yang lemah secara politis. KPK pun lagi-lagi akan menjauhkan diri dari indikasi keterlibatan tokoh-tokoh penting dalam kasus itu.
Dengan kecenderungan seperti itu, sangat sulit untuk meyakinkan publik bahwa KPK tidak melakukan tebang pilih dalam penegakan hukum.

Sabtu, 03 September 2011

Indonesia Wajib Maksimalkan Laga Kandang

TehranMeylan Fredy Ismawan - detiksport- Kekalahan di kandang Iran memang mengecewakan. Tapi, timnas Indonesia tak boleh patah arang karena masih ada sisa lima pertandingan di mana tiga di antaranya akan dimainkan di kandang sendiri.

Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah Iran dalam pertandingan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia, Jumat (3/9/2011) malam WIB. Meski bisa menahan imbang 0-0 pada babak pertama, tim 'Merah Putih' akhirnya menyerah 0-3.

"Pada babak pertama anak-anak bermain baik, tetapi secara fisik mereka memang masih belum maksimal. Iran memiliki pemain berpostur tubuh tinggi, tidak heran jika mereka bisa memanfaatkan bola-bola atas. Apalagi secara peringkat dunia, mereka jauh di atas kita," kata pelatih Indonesia, Wim Rijsbergen.

"Seharusnya pemain bisa lebih konsentrasi. Mereka sudah berusaha keras, sayang memang hasilnya ternyata kurang cukup," sesalnya.

Meski saat ini menghuni posisi juru kunci Grup E, peluang Indonesia untuk lolos ke putaran berikutnya masih terbuka lebar. Untuk memuluskannya, Firman Utina dkk. harus mampu meraih poin penuh saat berlaga di kandang sendiri.

"Pertandingan kandang dan tandang memiliki efek berbeda. Kita di Indonesia punya suporter yang banyak dan luar biasa. Di pertandingan kandanglah nanti kami akan berusaha mencuri poin kemenangan," ujar Rijsbergen.

"Jika kami bisa berkoordinasi selama 90 menit dan mampu menahan bola, maka kami memiliki peluang lolos dari grup," tutur pria asal Belanda ini.

Selasa (6/9/2011) besok, ujian kandang pertama akan dihadapi Indonesia. Tim 'Merah Putih' akan menjamu Bahrain di Gelora Bung Karno.( mfi / mfi )

Indonesia Dikalahkan Iran 0-3


Tehran, Meylan Fredy Ismawan - detiksport - Tim nasional Indonesia tak berhasil mencuri poin pada partai perdananya di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Bertandang ke markas Iran, tim Garuda takluk 0-3.



Bertanding di Azadi Stadium, Jumat (2/9/2011) malam WIB, Indonesia tak bisa menurunkan kekuatan terbaik. Boaz Solossa, Ahmad Bustomi, dan Muhammad Nasuha absen dengan alasan beragam.

Meski demikian, tim 'Merah Putih' masih mampu menahan serangan-serangan tuan rumah pada babak pertama. Hingga turun minum, skor 0-0 belum berubah.

Pada babak kedua, pertahanan Indonesia goyah juga. Tiga gol pun bersarang di gawang Markus Horison. Dua lewat sundulan Javad Nekounam, satu lainnya oleh Andranik Teymourian.

Dengan kekalahan ini, Indonesia untuk sementara menghuni posisi juru kunci Grup E dengan poin nol. Iran di puncak klasemen dengan poin tiga.

Jalannya pertandingan

Pada menit-menit awal, tim tuan rumah mendominasi penguasaan bola dan mengambil inisiatif serangan lebih dulu. Tapi, Markus Horison dan bek-bek Indonesia masih mampu menangkalnya.

Pada menit ke-23, sebuah pelanggaran di depan kotak penalti Indonesia berbuah tendangan bebas untuk Iran. Tapi, eksekusi Javad Nekounam masih melambung.

Empat menit berselang, gawang Markus kembali terancam. Kali ini, sepakan keras Ghasem Hadadifar yang masih melenceng di samping gawang.

Menit ke-31, upaya Mohammad Reza Khalatbari juga belum membuahkan hasil. Sontekannya meneruskan umpan silang Mehrdad Pooladi masih melambung tipis.

Lima menit kemudian, Indonesia mendapatkan peluang. Kerja sama Cristian Gonzales dan Bambang Pamungkas dituntaskan oleh nama terakhir dengan sepakan keras kaki kiri dari luar kotak penalti. Tapi, bola masih melambung.

Iran sepertinya benar-benar berusaha memanfaatkan keunggulan postur mereka. Pada menit ke-39, sundulan Farhad Majadi masih belum menemui sasaran.

Dua menit jelang jeda, Markus berhasil menyelamatkan gawang Indonesia. Tendangan bebas Nekounam bisa dibaca dengan baik oleh kiper berkepala pelontos ini.

Hingga babak pertama usai, skor masih 0-0.


Pada awal babak kedua, taktik Iran masih sama. Mereka masih mengandalkan umpan-umpan silang ke mulut gawang Indonesia.

Taktik ini berbuah gol pada menit ke-53. Menyambut tendangan bebas rekannya, Nekounam berhasil menyundul bola dan mengarahkannya ke pojok gawang Markus.

Pada menit ke-61, Muhammad Ilham melakukan aksi individu dari lini tengah. Setelah melewati beberapa pemain, dia melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Hasilnya? bola masih melambung.

Dua menit berselang, Gholam Reza Rezaei menjajal peruntungannya. Tapi, tendangannya dari luar kotak penalti masih tepat mengarah ke pelukan Markus.

Indonesia kebobolan lagi pada menit ke-74. Bermula dari tendangan bebas Andranik Teymourian, sundulan Nekounam lagi-lagi bersarang di gawang Markus.

Empat menit jelang berakhirnya waktu normal, giliran Teymourian yang menjebol gawang Indonesia. Tembakan kerasnya meneruskan operan Mohammad Hosseini tak mampu diantisipasi oleh Markus.

Susunan pemain:
Iran: Mahdi Rahmati, Khosro Heidari, Jalal Hosseini, Hadi Aghili, Javad Nekounam, Ghasem Hadadifar (Andranik Teymourian 70'), Mehrdad Pooladi, Farhad Majidi, Ali Karimi, Mohammad Reza Khalatbari (Ehsan Haji Safi 65'), Gholam Reza Rezaei (Mohammad Hosseini 64')

Indonesia: Markus Horison, Zulkifli Syukur, Benny Wahyudi, Muhammad Roby, Hamka Hamzah, Hariono (Tony Sucipto 78'), Firman Utina (Oktovianus Maniani 81'), Muhammad Ridwan, Muhammad Ilham (Irfan Bachdim 61'), Bambang Pamungkas, Cristian Gonzales. ( mfi / a2s )

Jumat, 02 September 2011

Timnas Janji Lawan Iran Habis-Habisan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tim nasional sepak bola Indonesia akan melakukan perlawanan sengit saat melawan tim nasional Iran dalam laga perdana babak penyisihan Grup E kualifikasi Pra Piala Dunia 2014, di Iran, Jumat, 2 September 2011.


Pelatih timnas Wim Rijsbergen mengakui, ini merupakan ujian berat bagi Indonesia, namun dia menjanjikan adanya perlawanan sengit terhadap tim yang dijuluki tim Melli itu.


“Saya pikir Iran adalah yang terkuat di grup ini dan memiliki sejarah timnas yang baik. Saya juga mengenal pelatihnya dan bersama dia Iran potensial untuk menjadi lebih baik," kata Rijsbergen dalam rilis yang diterima Tempo, Kamis,1 September 2011.


"Namun kami datang kesini tidak untuk memberi kalian tiga poin begitu saja. Kami akan memberi perlawanan sengit," ujar Wim. Pelatih asal Belanda itu mengaku berlaga di kandang lawan memang bukanlah pilihan yang mudah.


Dukungan dari para suporter yang dipastikan memadati Stadion Azadi yang berkapasitas seratus ribu penonton itu bakal menjadi tantangan tersendiri. “Jelas tuan rumah akan memetik keuntungan dari pemain ke-12, selalu seperti itu. Pertandingan nanti akan sangat sulit," lanjutnya.

Di atas kertas, tim nasional Iran lebih baik dari Firman cs, karena kini duduk di peringkat 53 dunia. “Kini kami berada di peringkat 131 dunia. Inilah saat terbaik bagi tim untuk melihat sejauh mana kualitas permainan mereka di dunia dan jelas ini akan menjadi materi pembelajaran untuk ke depannya. Semoga kami berhasil mengambil poin dalam pertandingan nanti," ujar Wim.

Wim mengakui sedikit kecewa setelah salah satu pemain belakang andalannya, Muhammad Nasuha dipastikan tidak bisa tampil akibat akumulasi kartu kuning. “Namun pemain yang kami bawa kesini juga merupakan materi terbaik. Lihat saja nanti hasilnya seperti apa," katanya. Nasuha dianggap telah mendapatkan dua kartu kuning oleh Federasi Sepakbola Asia (AFC) di sepanjang laga melawan Turkmenistan.


Bambang Pamungkas
Striker Indonesia Bambang Pamungkas optimistis timnya bisa meraih poin pada laga melawan Iran nanti. “Kami datang untuk mendapatkan poin. Kita lihat saja di 90 menit pertandingan nanti, tim terbaiklah yang akan menang. Jelas kami akan berusaha untuk mendapat hasil terbaik," katanya.

Pelatih timnas Iran, Carlos Queiros, menyatakan, Indonesia saat ini adalah lawan terberat dalam grup. “Saat ini yang berpeluang untuk mengambil poin dari kita adalah Indonesia,” katanya. Menurut Queiroz skuad Merah Putih bermain bagus dan menyerang.


“Apalagi tidak seperti kita yang terlambat mempersiapkan diri karena liga masih berjalan, mereka memiliki banyak waktu untuk fokus di timnas. Mereka adalah tim berbahaya,” lanjutnya.


Kalau Indonesia tidak bisa diperkuat oleh Nasuha, sedangkan Iran tidak bisa diperkuat Kharim Asharifard dan Mejar Zare. Firman Utina cs telah mendapatkan tantangan yang tidak mudah sejak mereka tiba di Teheran, Iran.


Setelah tidak mendapatkan lapangan latihan yang sesuai standar di kompleks olahraga Stadion Azadi, mereka juga dipastikan bakal bergelut dengan suhu dingin yang kini sedang melanda Teheran. Diperkirakan Firman cs harus bertanding pada suhu udara sekitar 10-15 derajat Celcius. (EZTHER LASTANIA)

Pengacara Nazaruddin, Dea Tunggaesti "Hukum Pidana Lebih Menantang, Lebih Fun"

Pernah jadi model iklan dan bintang film, dia memilih menggeluti kerasnya hukum pidana.

Nama Dea Tunggaesti, pengacara kelahiran Solo, 26 September 1982, melejit ke angkasa. Wajahnya mendadak sering muncul di layar televisi. Penampilannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Maklum saja, selain kejelitaannya, mantan model dan bintang film ini sedang ditugasi bosnya, pengacara kawakan OC Kaligis, untuk mendampingi klien kakap yang sedang menggegerkan jagat politik Republik: mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, yang kini sedang dijerat berbagai kasus korupsi kakap. 
Untuk mengenalnya lebih dekat, wartawan VIVAnews.com mewawancarainya secara khusus di Wisma Nusantara, Jakarta, Kamis malam, 25 Agustus 2011. Berikut petikan perbincangan dengannya, didampingi sang suami, Neviu Parodi, seorang warga negara Italia.


Anda sejak awal memang bercita-cita jadi pengacara?
Dulu saya pernah bercita-cita jadi pramugari. Ingin jadi sekretaris juga pernah. Tapi akhirnya saya benar-benar tertarik ingin jadi pengacara.

Karena pengaruh ibu Anda yang juga seorang pengacara?
Mungkin iya. Ayah saya wiraswasta, ibu saya seorang in house lawyer. Kebetulan orang tua saya bercerai. Saya tinggal dengan ibu saya dan adik. Jadi, tiap malam di perbincangan keluarga, ibu saya yang jadi penasehat kami. Dia memang sering bicara soal hukum. 

Sekarang masih sering minta nasehat Ibu soal hukum?
Masih. Saya sering berkonsultasi dan dia banyak kasih masukan, karena baru pertama kali ini saya banyak bicara di media. Dia menasehati cara bicaranya harus begini, jangan bicara soal politik, bicara soal hukum saja. Dia wanti-wanti saya jangan mau digiring ke arah sana.


Punya kesibukan selain pengacara?
Anak saya masih kecil. Yang satu 3 tahun, yang satu 1 tahun. Jadi, kegiatannya ya ajak anak-anak berenang, mereka lagi senang-senangnya berenang. Terus, mungkin ke mal yang ada tempat main untuk anak-anak. Saya juga senang sekali masak, juga menonton film serial, tentunya yang berbau hukum. 


Anda juga masih kuliah, bukan?
Saya sedang kuliah S3 hukum lagi di Universitas Padjajaran. Kuliah sudah selesai, tinggal menulis thesis. Saya mengambil hukum pidana.

Kabarnya Anda pernah main film.
Ya, film layar lebar. Saya pernah main di "30 Hari Mencari Cinta", jadi temannya si Luna itu. Juga, video klip Sheila on 7 "Pejantan Tangguh", lalu Kahitna. Saya jadi artis waktu saya kuliah, ketika ada waktu senggang. Lebih banyak jadi model iklan, sih: softener So Klin. Wah, seneng banget waktu dapat job itu. Setelah itu, juga spaghetti La Fonte, Kacang Garuda, dan Softex.

Kenapa berhenti?
Saya menikah tahun 2004. Habis menikah saya di luar Jakarta, jadi agak malas juga. Selain itu, artis kan mengandalkan imajinasi. Saya kira saya tidak punya bakat untuk itu. Saya tidak bisa.


Bagaimana bisa bergabung dengan firma OC Kaligis?
Saya pertama ketemu Pak Kaligis pada tahun 2007. Saya datang ke Beliau dengan mengirim aplikasi, setelah lulus S2 di Program MM UGM di Gondangdia, Jakarta. Saya melihat Beliau seorang pengacara besar. Maka, saya memberanikan diri untuk datang. Saya mulai bekerja di kantor Pak OC sejak tahun 2007.

Kenapa melamar ke OC Kaligis?
Pak OC itu sebenarnya masih saudara jauh dengan suami saya. Jadi, mama suami saya itu masih sepupu jauh Manado sama Pak OC. Saya kenal Beliau sudah lama, sejak kuliah. Beliau sering mengajar sebagai dosen tamu. Tapi karena saya pacaran sama suami saya sekarang, akhirnya ketemu lagi. 


Anda ditunjuk langsung oleh OC Kaligis untuk mendampingi Nazaruddin?
Ya, saya ditunjuk Pak OC. Beliau biasanya menunjuk beberapa orang untuk memegang satu perkara. Sebenarnya, saya sudah ditunjuk memegang kasus ini sejak Juni, sebelum kasus ini heboh. Sejak Juni 2011, Pak OC sudah punya kuasa dari Pak Nazar untuk menjadi pengacaranya. Di situ, Beliau mencantumkan beberapa nama supaya juga dimasukkan di surat kuasa. Di setiap kasus, sejak awal selalu Pak OC yang menunjuk sendiri siapa anggota timnya.

Anda punya kemampaun pidana lebih sehingga ditunjuk mendampingi Nazar?
Tidak, sih. Pak OC pasti kasih kesempatan ke setiap orang. Di kantor Pak OC ada 70 pengacara. Sebenarnya, tim Nazaruddin ada sembilan orang, empat pengacara senior. Mereka yang senior, termasuk Pak OC, hanya supervisi saja.

Kenapa Anda tidak memilih jalur perdata saja?
Dunia pidana terkenal lebih keras, jadi lebih menantang buat saya. Lebih fun. Di kantor saya, setiap pengacara dikasih kesempatan untuk mencoba semua. Saya pernah diminta bekerja di bagian pendapat hukum, dan itu bekerja di kantor saja. Saya merasa kurang fun. Saya lebih suka keluar kantor, ketemu banyak orang. Rasanya lebih cocok dengan jiwa saya. Kalau di kantor hanya ngetik-ngetik, saya bosan ... hahaha.


Kenapa yang sering tampil di media hanya Anda dan Boy Afrian Bondjol?
Mungkin karena perkara ini diliput media secara luas, jadi Pak OC memberikan tugas khusus kepada Pak Boy dan saya untuk bicara.

Tugas ini sulit?
Saya tidak menyangka dikasih tugas ini. Saya tidak menyangka kasus ini akan menjadi besar, tiba-tiba menjadi begini. Saya harus bekerja ekstra, karena selain soal menyiapkan pembelaan dan paper work, saya juga harus meng-counter pendapat publik yang menyudutkan dan tidak sesuai dengan fakta. Sebagai kuasa hukum, saya harus memberikan keterangan ke media.

Keluarga mendukung Anda menangani kasus Nazaruddin?
Ya, pasti ada dukungan. Ada yang menasehati, 'Hati-hati, kasus ini nuansa politiknya tinggi.' Tapi, tidak sampai menentang. Tidak. Mereka memberi nasehat.
Setelah jadi terkenal, Anda mestinya sering disapa orang.
Ya, ada saja yang bertanya, 'Mbak, Pak Nazar apa kabar?' Saya bilang, 'Baik, nanti saya sampaikan salamnya.' (kd) Ismoko Widjaya, Nila Chrisna Yulika (VIVAnews)