Amazon MP3 Clips

Jumat, 19 Agustus 2011

PAMPANG, desa Cagar Budaya di Timur Kalimantan



Bumi Kalimantan yang dulu dikenal dengan sebutan Borneo, didiami oleh sejumlah besar suku Dayak. Di berbagai propinsi terdapat suku-suku Dayak dengan ciri fisik yang sedikit berbeda, juga dalam hal bahasanya. Konon ada sekitar 500 lebih suku Dayak tersebar di seantero Kalimantan, hingga ke wilayah Serawak dan Brunei Darusalam. Perjalanan dari kota Samarinda menuju desa Pampang, sebuah desa cagar budaya Dayak, memakan waktu kurang lebih 50 menit sudah termasuk macetnya lalu lintas di kota Tepian tersebut. Kami meleset di jalan utama dari Samarinda menuju Bontang dan mulanya perjalanan terasa biasa-biasa saja. Saat memasuki kawasan desa tersebut, suasana alam pedesaan mulai terasa. Desa Pampang sendiri berada di daerah perbukitan ditumbuhi hutan-hutan semak nan hijau. Meskipun memasuki kawasan pedesaan, namun jalannya mulus dan cukup dilewati dua mobil. Desa ini sendiri terletak di aliran Sungai Siring, Kota Samarinda, Kalimantan Timur dan merupakan objek wisata andalan kota Samarinda.

Cagar Budaya
Munculnya desa itu punya cerita tersendiri. Bermula sekitar tahun 1960-an, dimana suku Dayak Apokayan dan Kenyah yang saat itu berdomisili di wilayah Kutai Barat dan Malinau, berpindah lantaran tak mau bergabung atau tak ingin ikut ke wilayah Malaysia dengan motif dan harapan taraf pendapatan atau ekonomi yang menjanjikan. Ada semacam rasa nasionalisme yang membuat mereka memilih tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suku-suku tersebut lalu menempuh perjalanan dan berpindah-pindah selama bertahun-tahun,  dengan berjalan kaki. Untuk menyambung hidup mereka singgah di tempat-tempat yang dilaluinya dan berladang. Kehidupan mereka terus berpindah-pindah untuk berladang. Akhirnya mereka sampai di kawasan Pampang. Lalu mereka menetap di desa Pampang dan melakukan berbagai kegiatan masyarakat, seperti bergotong-royong, merayakan Natal, dan panen raya. Kemudian di bulan Juni 1991, Gubernur Kaltim H.M  Ardans mencanangkan dan meresmikan desa Pampang sebagai desa Budaya. Pemerintah merasa berkepentingan untuk mendorong desa budaya ini memiliki kegiatan positif yang bisa menjadi aset wisata unggulan, baik di tingkat lokal hingga mancanegara. Karena itu setiap tahun digelar acara memperingati ulang tahun desa Pampang, yang disebut dengan nama Upacara Pelas Tahun. Pemerintah berharap desa ini bisa terus memelihara dan melestarikan adat istiadat dan budaya masyarakat Dayak. Desa Budaya Pampang, kini kerap dikunjungi para turis baik domestik maupun mancanegara. Umumnya para pengunjung merasa penasaran ingin melihat langsung eksotisme budaya, adat istiadat, dan sosok masyarakat Dayak, yang memang sudah dikenal dunia. Pemerintah mendukung agar warga Dayak yang menghuni Desa Pampang untuk bisa mengembangkan potensi lain, misalnya membuat cindera mata seperti manik-manik dan sejenisnya.
Nilai Jual
Karena komunitas Dayak Kenyah makin lama makin berkurang, maka pelestarian budayanya tampak semakin ditingkatkan. Kelangkaan juga terjadi pada atraksi-atraksi budayanya, sehingga makin lama budaya Dayak justru semakin memiliki nilai jual. Di kampung Pampang kini hanya tinggal satu orang ibu yang mempertahankan tradisi dengan telinganya yang terburai panjang,  dihiasi perhiasan sejenis gelang ukuran kecil yang terbuat dari kuningan. Tidak ada generasi sesudahnya yang melanjutkan tradisi tersebut. Saking langkanya budaya Dayak, maka setiap ada kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik, kalau ingin berfoto bersama sang ibu tersebut, kita dikenakan biaya dua puluh lima ribu rupiah sekali jepret. Rupanya Ibu itu sangat paham dengan minat para wisatawan, dan kelebihan yang ia miliki. Demikian juga ketika kami datang, segerombolan anak-anak usia sekolah, mendekati kami dan menawarkan jasa mereka untuk menyuguhkan tarian Dayak, atau berfoto bersama dengan ongkos yang tidak murah. Berbagai jenis tarian adat yang dipertunjukkan di antaranya adalah tari Kancet Lasan, tari Kancet Punan Lettu, Hudoq, Manyam dan lain sebagainya. Di panggung adat, kamai juga melihat sejumlah foto dan lambang-lambang adat setempat. Foto-foto yang terpampang adalah sejumlah gadis cantik dan pemuda-pemuda gagah, yang tampak penuh semangat menari-nari sambil mengenakan pakaian khas adat Dayak. Busana yang mereka kenakan terdapat motif yang mencirikan keunikan budaya suku Dayak di Kalimantan. Sayup-sayup  saya juga mendengar alaunan musik khas Dayak seperti sampek terus membahana di sekitar. Sungguh pengalaman yang berkesan. Ternayata di balik hingar-bingarnya suasana perkotaan, khususnya kota Samarinda dan Balikpapan yang terus menggeliat maju dan modern, justru desa Dayak, desa Pampang masih menawarkan pesona budayanya yang bersahaja tetapi sangat memikat. (Bonaventura Ngw dari Samarinda Kaltim, awal Agustus 2011)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar